Bengkalis™

"Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Takkan Melayu Hilang di Bumi"

Kantor Bupati Bengkalis

Kantor Bupati Bengkalis Jl. Jend. Ahmad ...

Lembaga Adat Melayu Riau

Kantor Lembaga Adat Melayu ...

Wisma Sri Mahkota

Rumah dinas Bupati ...

Masjid Istiqomah

Masjid raya ...

Rumah Dinas Wakil Bupati

Rumah dinas wakil Bupati ...

Pelabuhan Tradisional

Pelabuhan Tradisional yang ada di ...

News Image

Kantor Bupati Bengkalis

Kantor Bupati Bengkalis Jl. Jend. Ahmad Yani...

News Image

Lembaga Adat Melayu Riau

Kantor Lembaga Adat Melayu Bengkalis...

News Image

Wisma Sri Mahkota

Rumah dinas Bupati Bengkalis...

News Image

Masjid Istiqomah

Masjid raya Istiqomah...

News Image

Rumah Dinas Wakil Bupati

Rumah dinas wakil Bupati Bengkalis...

News Image

Pelabuhan Tradisional

Pelabuhan Tradisional yang ada di Bengkalis...

SEJARAH ASAL USUL NAMA BENGKALIS

E-mail Print PDF

Sekilas artikel ini mirip dengan artikel saya sebelumnya yang berjudul SEJARAH DAN ASAL MULA LAHIRNYA BENGKALIS, artikel dengan judul Sejarah Asal Usul Nama Bengkalis ini disadur dari Majalah Budaya Melayu No. 1 Tahun 2008 isinya mengkisahkan tentang asal usul nama Bengkalis itu sendiri, berikut kisahnya : Pada abad ke-15 kerajaan Gasib merupakan kerajaan melayu yang sangat berpengaruh dipesisir timur Sumatera. Pada tahun 1459-1477 kerajaan Malaka disemenanjung Malaya berhasil menaklukkan sepenuhnya kerajaan Gasib pada zaman pemerintahan Sultan Mansyur Syah. Raja Gasib yang bernama Megat Kudu yang dikala itu masih belum memeluk agama islam, dibawah pemerintahan otoritas Kerajaan Malaka, maka diislamkan oleh Sultan Malaka serta diberi gelar Sultan Ibrahim. Beliau diangkat menjadi wakil Sultan Malaka pada kerajaan Gasib, yang kemudian menjadi pusat perkembangan agama islam terbesar pada saat itu.

Syahdan, ada seorang sultan dari tanah Melayu yang baru kembali dari Kerajaan Johor, bernama Tuan Bujang atau lebih dipanggil Raja Kecil dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, beliau melarikan diri dari Semenanjung Malaya pada tahun 1722 dan singgah disebuah pulau kecil dibibir Selat Malaka. Kedatangan beliau ini dikarenakan kegagalannya merebut kembali kerajaan Johor setelah melalui pertempuran yang hebat, hal tersebut dikarenakan tidak diakuinya sebagai Sultan yang berkuasa pada saat itu, sehingga memaksanya terusir kepengasingan. Kepada para pengikutnya yang setia, Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah mengungkapkan perasaannya yang sangat kecewa, dikarenakan adanya pengkhianatan orang dalam sampai diusir sehingga membuat hatinya mengkal karena tidak diakui sebagai Sultan Kerajaan Johor yang sah, akan tetapi ia tetap berjiwa besar dan kalis menerima kenyataan pahit ini.

Kata-kata “mengkal” didalam kamus bahasa melayu diartikan sedih, atau berduka, sedangkan kata “kalis” memiliki makna arti kesabaran, ketabahan dan tahan terhadap segala ujian . Kata-kata inilah yang sering didengung-dengungkan untuk menggambarkan kesedihan Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, sehingga dua kata terpatri dan terus diingat oleh pengikut dan pegawal terdekatnya, yang merupakan sebuah ungkapan yang sarat akan makna, sehingga kata mengkal dan kalis ini menjadi buah bibir masyarakat setempat yang mendiami sebuah pulau dimana sebagai tempat pengasingan, sehingga lambat laut pulau kecil itu disebut menjadi Pulau Mengkalis.

Kedatangan Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, disambut oleh pemuka masyarakat setempat yaitu: Batin (Ketua Adat/Panglima) Merbau, Batin Selat Tebing Tinggi dan sejumlah Batin lainnya, dimana beliau ada saat itu mendapat kehormatan dan dukungan serta pengakuan, karena pada dasarnya penduduk Pulau Mengkalis, meyakini bahwa Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah atau Tuan Bujang atau Raja Kecil, sesungguhnya adalah seorang Sultan pewaris kerajaan Johor yang sebenarnya, dimana mendapatkan penggulingan kekuasaan (kudeta), fitnah serta perlakuan yang semena-mena sehingga diusir dari tanah kelahirannya disemenanjung Malaya. Para Batin dipulau dimana Sultan diusir, mengusulkan agar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah mendirikan kerajaan di Pulau Mengkalis.

Akan tetapi melalui musyawarah Raja Kecil dengan Datuk Laksamana Bukit Batu yang begitu kesohor dengan julukan Datuk Laksamana Raja Dilaut didampingi Datuk Lima Puluh, Datuk Kampar, Datuk Pesisir dan Datuk Tanah Datar berhasil membuat kesepakatan (konsensus) bahwa pusat kerajaan baru yang nanti akan dibentuk tidak berada di Pulau Mengkalis, akan tetapi didekat Sabak Aur dipinggir Sungai Buatan yang akhirnya didirikan sekitar tahun 1723. Berdirinya kerajaan baru ini, memperlihatkan berkembang sangat pesat dan lambat laun menjadi kerajaan besar dengan nama Siak Sri Indrapura yang menguasai daratan, pesisir sampai pada perbatasan Aceh diutara disepanjang Pulau Sumatera. Sedangkan Pulau Mengkalis yang tidak dijadikan pusat kerajaan, digunakan sebagai pulau transit, serta markas besar komando pengawalan kapal-kapal niaga maupun kapal perang yang keluar masuk dari atau ke Sungai Siak, Selat Bengkalis, Bukit Batu sampai rute ke Selat Malaka dan Johor oleh pasukan Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Keberadaan Pulau Mengkalis ini sangat vital, merupakan benteng pertahanan terdepan (front line) yang berhadapan dengan kekuatan kerajaan Malaya, pulau sebagai tempat gudang persenjataan dan bahan logistik yang disuplai kepada armada laut, terutama mendukung pada gejolak perang besar penaklukkan Kerajaan Malaka oleh Bangsa penjajah Protugis. Tanpa terasa masyarakat yang dulunya mengenal sebutan pulau ini menjadi dengan nama : Pulau Mengkalis, akan tetapi seiring pergantian zaman, serta pergantian regenerasi dan pengucapan lafal oleh penduduk setempat, maka kata Pulau Mengkalis berubah menjadi Pulau Bengkalis yang sampai saat ini masih melekat dengan sebuah pulau yang penuh harapan dan penghidupan.

Anda di : Sekilas Bengkalis Histori SEJARAH ASAL USUL NAMA BENGKALIS