Artikel ini kelanjutan dari SEJARAH DAN ASAL MULA LAHIRNYA BENGKALIS ternyata masih banyak peristiwa penting terjadi setelah Bengkalis dan Gabungan Negeri Melayu yang lain dapat mematahkan serangan Portugis. Pada tahun 1512 dengan kekalahan yang dialami Portugis tersebut menimbulkan rasa dendam yang membara sehingga Portugis menyerang Bengkalis kembali pada tanggal 23 Oktober 1512. Benteng Laksamana Batin Hitam Senggoro diserang besar-besar oleh Portugis dengan 25 buah kapal besar dan ribuan prajurit. Akhirnya Bengkalis tidak mampu bertahan dan Laksamana Batin Hitam mundur ke Siak-Gasib.
Setelah Portugis meraih kemenangan, untuk membersihkan ancaman pasukan Kemaharajaan Melayu yang mengganggu armada dagangnya, Portugis melakukan pembersihan di perairan Bengkalis. Tahun 1537 terjadi pertempuran antara armada Bengkalis, Bukit Batu dan Siak-Gasib dengan armada Portugis di selat Dumai, segala persenjataan seperti meriam di lengkapkan. Pada tahun 1537 itu juga Portugis melakukan serangan kembali ke Senggoro-Bengkalis, untuk kedua kalinya Bengkalis dapat dikalahkan oleh Portugis.
Disamping data-data diatas, msih banyak maklumat lain yang mendukung usaha dan perjuangan Bengkalis dalam melawan penjajah. Semuanya menunjukkan bahwa Bengkalis memiliki kesinambungan sejarah dan menggambarkan bahwa Bengkalis telah memiliki kehidupan atau tamadun yang berkembang.
CATATAN PORTUGIS TENTANG BENGKALIS TAHUN (1613)
Nama Bengkalis sudah ada dalam catatan Portugis. Seorang penulis berasal dari Portugis yang bernama E Gordinho de Eredeia, “Declaracam de Malacca & India Meridonal com o Cathay” (1613), telah menulis Bengkalis dengan sebutan “BENCALIS” dan dalam bukunya juga menyebutkan bahwa Bengkalis memprodukisi “Terubuk” yang dapat di ekspor ke Malaka. Orang-orang Portugis sangat gemar mengkonsumsi ikan terubuk ini, bahkan ketika Belanda dimasa pemerintahan VOC memasuki daerah Malaka dimana Gubernur Bort (1678) ikan terubuk Bengkalis ini juga sangat diminati atau digemari oleh mereka. Gordinho juga menyebutkan usaha mengekspor ikan terubuk ini dibawah pengawasan Syahbandar Bengkalis yang mewakili Kesultanan Imperium Melayu Johor-Riau.
Disebabkan hasil pendapatan ekspor ikan terubuk ini semakin meningkat sehingga menimbulkan hasrat Gubernur Malaka untuk berkunjung ke Bengkalis. Dalam catatannya lagi Gorinho menyatakan bahwa kegiatan perdagangan ikan terubuk di Bengkalis mencapai puncaknya yaitu pada bulan Mei dan Nopember pada tiap-tiap tahunnya. (Tengku Lukman Sinar, Beberapa catatan lintasan Sejarah Bengkalis, dalam Sejarah Kabupaten Bengkalis Hal. 146-147).
RAJA KECIL MEMINTA BANTUAN BENTKALIS (1717)
Di zaman kerajaan Siak Sri Indrapura dibawah pimpinan Raja Kecil (Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah) pada tahun 1699 telah bergabung dengan orang Bengkalis untuk merebut tahta Riau Johor. Usaha merampas kekuasaan Johor Riau yang berpusat di kota Tinggi dapat dilaksanakan denga mudah melalui bantuan Pemerintahan Bendahara yang sebelum ini memproklamirkan dirinya sebagai Sultan. Dalam teks “Melayu Tuhfat Al Nafis” kajian “Virginia Mathenson Hooker” disebutkan bahwa ketika rombongan Raja Kecil berada di Bengkalis mereka mengambil posisi yang paling kuat dekat denga Johor, mereka membuat “Kota Parit” (diperkirakan Tanjung Parit yang berada di Muntai sekarang) sebagai pusat perlindungan.
Parit digunakan untuk melayari kolek-koleh (sampan) sebagai tempat mempertahankan diri jika pihak Johor menyerang. Kekhawatiran itu timbul karena raja Kecil telah mengirim perutusannya untuk mengambil alih Pemerintahan Johor Riau. Bantuan yang diulurkan oleh masyarakat Bengkalis pada tahun 1717 terhadap raja Kecil menggambarkan bahwa Bengkalis ketika itu telah memiliki kekuatan dan ketamadunan yang tinggi, disamping itu Bengkalis juga berada pada posisi yang sangat strategis sehingga pengembangan budaya, cara hidup dan arus kemajuan lebih cepat mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakatnya.
Belanda Menguasai Bengkalis (1755) Setelah beberapa tahun Raja Kecil memerintah maka terjadilah pergolakan di Johor Riau yang menyebabkan Raja Kecil kembali ke Siak, dan akhirnya mendirikan Kerajaan Siak Sri Indrapura (1723). Setelah Raja Kecil mangkat pada tahun 1740, dua orang puteranya yaitu Raja Alam dan Raja Muhammad saling memperebutkan tahta kerajaan Siak. Disinilah Belanda mulai masuk membantu salah satu pihak, sehingga terjadilah perang Pulau Guntong pada tahun 1755, dalam perang ini Bengkalis menjadi pilihan strategis di depan pintu masuk Siak dan direbut Belanda untuk dijadikan basis pasukannya.














